Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,01 Persen pada Triwulan III-2025, Pertanian dan Perdagangan Jadi Penopang

Limabelas Indonesia, Makassar, 13 Desember 2025 — Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan pada Triwulan III-2025 menunjukkan kinerja yang tetap solid. Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan, Inyo, ST., M.Eng., mengatakan bahwa pada periode tersebut ekonomi Sulsel mampu menciptakan nilai tambah sebesar Rp196,97 triliun atas dasar harga berlaku.

“Pada Triwulan III-2025, perekonomian Sulawesi Selatan menciptakan nilai tambah sebesar Rp196,97 triliun. Hal ini mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang masih terjaga dengan baik,” ujar Inyo.

Ia menjelaskan, secara year-on-year (y-on-y) ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,01 persen. Sementara itu, secara quarter-to-quarter (q-to-q) ekonomi tumbuh 3,37 persen, dan secara cumulative-to-cumulative (c-to-c) dari Triwulan I hingga Triwulan III-2025 tercatat tumbuh 5,23 persen.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi Sulawesi Selatan secara kumulatif masih berada pada tren positif sepanjang tahun 2025,” katanya.

Menurut Inyo, sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyebutkan bahwa sektor pertanian telah mencatatkan pertumbuhan positif sejak Triwulan II-2024 dan terus mengalami percepatan hingga Triwulan III-2025.

“Pada Triwulan III-2025, subsektor tanaman pangan tumbuh positif, terutama padi dan jagung. Selain itu, subsektor perikanan juga tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup baik,” jelasnya.

Selain pertanian, sektor perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan tersebut didorong oleh aktivitas perdagangan besar dan eceran selain mobil dan sepeda motor.

“Perdagangan besar dan eceran non-mobil dan motor masih menjadi motor pertumbuhan. Namun, penjualan kendaraan bermotor pada Triwulan III-2025 mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan Triwulan III-2024,” ungkap Inyo.

Di sektor industri pengolahan, Inyo mengatakan pertumbuhan tetap terjaga berkat kontribusi Industri Mikro dan Kecil (IMK) serta peningkatan produksi tanaman pangan.

“Peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi, memberikan dampak positif terhadap industri makanan dan minuman. Namun demikian, industri logam dasar mengalami kontraksi, seiring menurunnya ekspor hasil industri besi dan baja,” katanya.

Dari sisi perkembangan harga, Inyo mengungkapkan bahwa pada November 2025 Sulawesi Selatan mengalami deflasi sebesar 0,07 persen secara month-to-month (m-to-m). Sementara itu, inflasi secara year-on-year (y-on-y) tercatat 2,73 persen, dan inflasi year-to-date (y-to-d) mencapai 2,34 persen.

“Deflasi pada November 2025 terutama disumbang oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,13 persen, di mana komoditas tomat menjadi penyumbang utama deflasi sebesar 0,07 persen,” jelasnya.

Sementara itu, penyumbang utama inflasi secara y-on-y berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 1,27 persen, terutama dari komoditas beras.

“Selain itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga memberikan andil inflasi yang cukup besar, terutama dari komoditas emas perhiasan,” tambah Inyo.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus berkomitmen menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi melalui penguatan sektor-sektor produktif serta pengendalian harga kebutuhan pokok.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *