Limabelas Indonesia, Makassar, 20 Juli 2026 – Komitmen menjaga mutu pendidikan tinggi kesehatan kembali ditegaskan oleh Program Studi Diploma IV Promosi Kesehatan Politeknik Kesehatan Megarezky (Polimerz) melalui pelaksanaan Surveilans Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) yang berlangsung di Meeting Room Polimerz, Senin (20/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari mekanisme evaluasi berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh standar akademik, tata kelola, serta pelaksanaan tridarma perguruan tinggi tetap berjalan secara konsisten pasca diperolehnya status akreditasi.
Surveilans dipimpin oleh dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D., asesor LAM-PTKes. Kehadiran asesor menjadi momentum penting bagi institusi untuk memperoleh penilaian objektif sekaligus rekomendasi strategis dalam memperkuat budaya mutu sebagai fondasi penyelenggaraan pendidikan tinggi kesehatan yang unggul.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Politeknik Kesehatan Megarezky, Wakil Direktur I dan II, Ketua dan Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Ketua Program Studi D-IV Promosi Kesehatan, pimpinan unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh unsur pendukung yang memiliki peran dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Kesehatan Megarezky, Dr. Hairuddin K., S.S., S.KM., M.Kes., menegaskan bahwa surveilans bukan sekadar proses administratif untuk memenuhi ketentuan akreditasi, melainkan instrumen akademik yang mendorong institusi melakukan refleksi, evaluasi, dan penyempurnaan secara berkesinambungan.
“Budaya mutu harus menjadi karakter institusi, bukan hanya hadir ketika proses akreditasi berlangsung. Surveilans menjadi ruang evaluasi yang sangat penting untuk memastikan setiap standar benar-benar diimplementasikan dalam proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga tata kelola kelembagaan. Polimerz berkomitmen menjadikan setiap rekomendasi sebagai pijakan untuk menghadirkan pendidikan tinggi kesehatan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing,” ujar Dr. Hairuddin.
Pelaksanaan surveilans berlangsung melalui serangkaian verifikasi dokumen, presentasi capaian kinerja program studi, serta diskusi mendalam mengenai implementasi berbagai standar mutu yang ditetapkan LAM-PTKes. Aspek yang dievaluasi mencakup tata pamong dan tata kelola, kepemimpinan, sumber daya manusia, kurikulum, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, luaran tridarma, kerja sama, hingga sistem penjaminan mutu yang diterapkan secara berkelanjutan.
Selain melakukan telaah terhadap dokumen akademik, asesor juga melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap implementasi kebijakan melalui dialog bersama pimpinan institusi, pengelola program studi, LPM, dosen, tenaga kependidikan, serta unit-unit pendukung. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan adanya kesesuaian antara dokumen evaluasi diri dengan praktik nyata yang berlangsung di lingkungan program studi.
Asesor dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D. menyampaikan bahwa substansi surveilans adalah memastikan keberlanjutan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi setelah suatu program studi memperoleh status akreditasi.
“Akreditasi bukanlah titik akhir, melainkan awal dari komitmen untuk menjaga kualitas secara berkelanjutan. Surveilans bertujuan memastikan bahwa seluruh standar mutu tidak berhenti pada dokumen, tetapi telah menjadi budaya akademik yang hidup dalam setiap aktivitas institusi. Perguruan tinggi yang mampu membangun budaya mutu secara konsisten akan lebih siap menghadapi perubahan, menghasilkan lulusan yang kompeten, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan kesehatan masyarakat,” ungkap dr. M. Furqaan Naiem.
Ketua Program Studi D-IV Promosi Kesehatan menjelaskan bahwa seluruh sivitas akademika telah melakukan berbagai upaya penguatan mutu melalui penyempurnaan dokumen akademik, peningkatan capaian indikator kinerja utama, pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan dunia kerja, serta optimalisasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian persoalan kesehatan di tingkat komunitas.
Lebih dari sekadar proses evaluasi, surveilans menjadi forum akademik yang memperkuat sinergi antara lembaga akreditasi dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi kesehatan yang akuntabel, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkesinambungan (continuous quality improvement). Rekomendasi yang diberikan asesor diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengembangan program studi agar semakin adaptif terhadap dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.
Pelaksanaan surveilans berlangsung secara konstruktif dan penuh semangat kolaborasi. Berbagai praktik baik (best practices) yang telah dikembangkan Program Studi D-IV Promosi Kesehatan memperoleh apresiasi, sekaligus menjadi ruang untuk mengidentifikasi peluang penguatan di masa mendatang.
Melalui pelaksanaan Surveilans LAM-PTKes ini, Politeknik Kesehatan Megarezky kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan yang menjadikan penjaminan mutu sebagai budaya organisasi, bukan sekadar pemenuhan regulasi. Komitmen tersebut diharapkan mampu memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus menghasilkan lulusan Promosi Kesehatan yang profesional, berintegritas, berwawasan global, dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan kesehatan Indonesia yang berkelanjutan. (*)





