Limabelas Indonesia, Makassar — Muktamar XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) resmi dibuka di Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat (6/2/2026). Agenda nasional tersebut mengusung tema “Membumikan Arah Baru IPM” sebagai penegasan orientasi gerakan pelajar Muhammadiyah ke depan.
Pembukaan muktamar dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, pimpinan persyarikatan, perwakilan organisasi otonom, serta ribuan kader IPM dari seluruh Indonesia.
Dalam pidato pembukaannya, Haedar Nashir menegaskan bahwa IPM merupakan bagian penting dari kekuatan besar Muhammadiyah. Menurutnya, prestasi Muhammadiyah selama ini lahir dari berbagai latar belakang kader yang kemudian bersatu dalam satu tujuan, yakni memajukan persyarikatan.
“Kita harus bangga menjadi bagian dari gerakan dakwah dan gerakan kemajuan Muhammadiyah, termasuk seluruh organisasi otonom. Kebanggaan itu harus diarahkan untuk satu tujuan besar, memajukan Persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya.
Haedar menjelaskan, dalam usia 113 tahun, Muhammadiyah telah berkembang hingga ke pelosok tanah air, bahkan ke tingkat internasional. Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah, lebih dari 20.000 PAUD yang dikelola Aisyiyah, 164 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, termasuk puluhan fakultas kedokteran. Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki lebih dari 130 rumah sakit serta ratusan klinik dan balai kesehatan.
Ia menambahkan, di tengah upaya pemerintah memperluas kapasitas dokter dan tenaga kesehatan, Muhammadiyah hadir sebagai mitra strategis dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Amanah tersebut, kata Haedar, menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen persyarikatan.
“Yang akan melanjutkan, memelopori, dan menjaga masa depan Muhammadiyah adalah generasi muda, termasuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Karena itu, muktamar ini harus menjadi muktamar yang berdampak, bersejarah, dan memberi solusi bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Haedar menguraikan arah nilai gerakan yang harus dipegang kader IPM. Pertama, iman, takwa, dan tawadhu harus menjadi landasan gerakan, karena kemajuan tanpa nilai spiritual akan kehilangan makna. Kedua, tradisi ilmu, keahlian, dan semangat pembaruan harus menjadi karakter kader Muhammadiyah.
“Bermutamarlah dengan ilmu. Jangan bergerak tanpa ilmu. Indonesia Emas hanya akan terwujud jika ada tradisi ilmu, tradisi berpikir, dan tradisi pembaruan,” katanya.
Ketiga, Haedar menekankan bahwa iman dan ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Ia mencontohkan semangat pembaruan Islam pasca runtuhnya Andalusia dan Turki Usmani, yang melahirkan tokoh-tokoh pembaharu, termasuk KH Ahmad Dahlan.
“Pembaharu ibarat burung rajawali yang terbang tinggi dan membawa api perubahan ke setiap tempat demi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Haedar berpesan agar peserta muktamar memilih pemimpin IPM yang beriman, berilmu, berintegritas, serta memiliki visi besar untuk masa depan Muhammadiyah, umat, dan bangsa.





