Limabelas Indonesia, Makassar, 14 Desember 2025 – Keuskupan Agung Makassar (KAMS) kembali menegaskan komitmennya terhadap inklusi dan kesetaraan dengan merayakan Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) untuk ketiga kalinya. Perayaan yang mengusung tema “Inklusi, Kesetaraan dan Martabat Bagi Semua” ini digelar di Aula Keuskupan Agung Makassar, di bawah kepemimpinan Uskup Agung Makassar, Mgr Fransiskus Nipa.
Perayaan HDI ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan telah menjadi tradisi Gereja Katolik di Keuskupan Agung Makassar untuk merangkul, mendengarkan, dan berjalan bersama saudara-saudari difabel dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Kudus khusus bagi umat Katolik difabel yang dipimpin oleh Pastor Andreas Rusdyn Ugiwan dan Pastor Bernard Cakra Arungraya. Misa berlangsung khidmat dengan dukungan dua Juru Bahasa Isyarat (JBI) guna memastikan umat difabel tuli dapat mengikuti perayaan dengan aman dan nyaman.
Usai Misa, acara dilanjutkan dengan pentas seni dan talk show lintas iman yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang disabilitas. Talk show ini dipandu oleh Pastor Andreas Rusdyn Ugiwan.
Salah satu narasumber, Ni Nyoman Anna Marthanti dari Persatuan Orangtua Anak Autistik Makassar, menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi keluarga anak disabilitas, terutama kurangnya dukungan dan keberanian keluarga untuk membuka kondisi anak di ruang publik.
“Keluarga harus berani memperjuangkan pemenuhan hak-hak anaknya, termasuk hak untuk beribadah dengan aman dan nyaman sebagaimana yang telah dilakukan oleh Gereja Katolik lewat Misa Khusus Disabilitas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. “Imago Dei artinya Tuhan menciptakan manusia sesuai rupa-Nya, maka tidak ada manusia yang kurang di mata-Nya,” tambahnya.
Narasumber berikutnya, Nabila Maysita, seorang difabel netra, akademisi, sekaligus Tim Ahli Pemerintah Kota Makassar, membagikan pengalamannya menghadapi tantangan sejak masa sekolah hingga kini aktif di ruang publik.
“Tidak ada yang akan membantu selain diri sendiri yang ingin berdaya. Dunia tidak akan berubah jika sebagai difabel hanya duduk diam dan mengutuki nasib. Kita harus bangkit dan berdaya,” tegas Nabila.
Sementara itu, Magfirah, seorang difabel tuli, turut berbagi pengalaman dalam mengadvokasi pentingnya pelibatan orang tua dalam mendampingi anak tuli agar dapat tumbuh percaya diri dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat.
Sebagai bagian dari edukasi publik, panitia juga mengundang Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) di Kota Makassar dan mengajak masyarakat mengikuti kegiatan desensitisasi, yakni simulasi untuk memahami tantangan yang dihadapi difabel. Peserta diajak mencoba bermain catur netra, membaca huruf Braille, berbahasa isyarat, berjalan dengan mata tertutup di guiding block, hingga menggunakan kursi roda di medan jalan yang tidak ramah disabilitas.
Perayaan semakin semarak dengan penampilan seni dari anak-anak disabilitas SLB Rajawali, penyerahan lukisan Uskup Agung Makassar oleh Neyda Angela, serta tarian daerah yang dibawakan anak-anak dari Komunitas Orangtua dengan Anak Down Syndrome.
Dalam sambutannya, Mgr Fransiskus Nipa mengajak umat dan masyarakat untuk terus membuka diri terhadap keberagaman.
“Saya berharap semakin banyak keluarga yang terbuka untuk mengajak anak dengan disabilitasnya beribadah. Umat juga perlu menghilangkan stigma terhadap disabilitas sehingga kita semua bisa saling menghormati, memahami, dan saling menguatkan,” ujar Mgr Fransiskus.
Ia menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan proses berkelanjutan untuk saling belajar, mendengar, mendukung, dan memastikan setiap orang diperlakukan setara dan bermartabat.
Kehadiran Gereja, komunitas penyandang disabilitas, serta umat lintas iman dalam perayaan ini diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang dialog, pengharapan, dan kasih bagi saudara-saudari difabel di tengah masyarakat. (*)





