Komunitas Disabilitas dan OMS Sulsel Sukses Gelar Peringatan HDI 2025 dengan Dukungan Program BaKTI Inklusi

Talkshow menghadirkan tiga narasumber, yakni Nisria Nurul Magfirah Nasir, S.Pd (GERKATIN Makassar), Ni Nyoman Anna Marthanti, S.IP., M.A (Korwil Sulsel Formasi Disabilitas) dan Dr. Idrus, M.Si (Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Maros). Diskusi dipandu oleh pegiat literasi dan sosial, Rusdin Tompo.

Limabelas Indonesia, Makassar, 6 Desember 2025 — Aksi Kolaborasi Komunitas Penyandang Disabilitas bersama Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Sulawesi Selatan sukses menyelenggarakan Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 pada Rabu, 3 Desember 2025, di Makassar Creative Hub, Anjungan Pantai Losari. Kegiatan yang didukung penuh Program BaKTI INKLUSI ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai realitas kehidupan penyandang disabilitas secara lebih mendalam.

Acara ini dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, H. Andi Bukti Djufrie, SP., M.Si, yang mewakili Wali Kota Makassar. Hadir pula perwakilan SKPD, akademisi, organisasi masyarakat sipil, organisasi penyandang disabilitas, serta Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.

Dalam sambutannya, Todd Dias menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan HDI 2025 yang dinilai inovatif dan inklusif. Menurutnya, pendekatan acara yang mengajak masyarakat umum terlibat langsung dalam memahami perspektif penyandang disabilitas merupakan langkah penting untuk membangun empati dan mengurangi stigma.

Membangun Empati melalui Desensitisasi Ragam Disabilitas

Ketua Panitia HDI 2025, Muhammad Luthfi, S.Tr.Sos., M.S.W, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini dirancang untuk memecah stigma yang masih mengakar. Melalui sesi Desensitisasi Ragam Disabilitas, masyarakat umum diajak merasakan pengalaman yang kerap dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mengundang masyarakat untuk mencoba langsung berbagai alat bantu dan materi dari lima ragam disabilitas. Tujuannya sederhana: agar masyarakat dapat merasakan dan memahami tantangan unik yang dihadapi teman-teman disabilitas,” ujar Luthfi.

Pengunjung diajak menyelesaikan misi di lima booth yang merepresentasikan ragam netra, tuli, daksa, autis, down syndrome, dan psikososial. Mereka mencoba berjalan dengan mata tertutup, mempelajari huruf Braille dan Bahasa Isyarat, mengikuti sesi terapi anak autis, hingga menaiki tanjakan dengan kursi roda. Peserta yang menuntaskan seluruh misi mendapat stempel pada “Inclusion Passport.”

Salah satu pengunjung, Hafidah Amiruddin, mengaku pengalaman tersebut membuka cara pandangnya. “Saya jadi lebih nyaman berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai ragam disabilitas,” ujarnya.

Forum Inspirasi Bahas Keterhubungan Kekerasan, Perempuan, dan Krisis Iklim

Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, rangkaian acara HDI 2025 turut menghadirkan Talkshow Inspirasi BaKTI bertema “Menelaah Keterhubungan Kekerasan Terhadap Perempuan dengan Perubahan Iklim dalam Perspektif Sosial Inklusi.”

Diskusi ini membahas bagaimana krisis iklim memperburuk kerentanan perempuan dan kelompok disabilitas serta tantangan integrasi isu kelompok rentan dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan.

Talkshow menghadirkan tiga narasumber, yakni Nisria Nurul Magfirah Nasir, S.Pd (GERKATIN Makassar), Ni Nyoman Anna Marthanti, S.IP., M.A (Korwil Sulsel Formasi Disabilitas) dan Dr. Idrus, M.Si (Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Maros). Diskusi dipandu oleh pegiat literasi dan sosial, Rusdin Tompo.

Komitmen Bersama Menuju Inklusi Sejati

Aksi Kolaborasi menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen kolektif. Ketika stigma dilebur, akses diperluas, dan aspirasi warga disabilitas didengar, ruang yang adil dan setara dapat terwujud.

Peringatan HDI 2025 di Makassar menjadi bukti nyata bahwa prinsip no one left behind bisa diimplementasikan melalui kerja bersama. Komunitas penyandang disabilitas tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan aktor utama dalam mengupayakan perubahan.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *