Limabelas Indonesia, Makassar – Di antara deretan tamu undangan yang terdiri dari pejabat, dokter gigi terkemuka, wartawan, serta ratusan masyarakat umum, sosok Junaidi (21) tampak mencuri perhatian. Mahasiswa semester 7 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin (Unhas) itu berdiri tegak di samping podium utama, memainkan peran yang sangat penting di tengah kemeriahan acara.
Bertempat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unhas, Rabu (3/12) lalu, pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2025 berlangsung meriah. Namun, bagi sebagian tamu, suasana itu terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Junaidi.
Dengan gerakan tangan yang terampil dan ekspresi wajah yang hidup, ia menerjemahkan setiap kalimat dalam sambutan para tokoh. Junaidi bertugas sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi rekan-rekan difabel rungu yang hadir sebagai tamu kehormatan.
Bukan hanya seorang JBI, Junaidi juga merupakan anggota aktif Pusat Disabilitas Unhas. Keterlibatannya dalam beragam kegiatan, termasuk acara penting seperti BKGN, sangat bergantung pada satu hal yakni konektivitas yang andal.
“Akurasi dan kecepatan itu wajib. Gerakan isyarat saya harus sinkron dengan ucapan pembicara agar teman-teman tuli tidak ketinggalan informasi sedetik pun,” ujarnya setelah acara.
Ia menuturkan, panitia kerap mengirimkan draf pidato dan materi presentasi dalam waktu singkat. Untuk menyiapkan interpretasi yang tepat, ia harus segera mengunduh berkas-berkas tersebut, mencari istilah medis yang kompleks, hingga berdiskusi secara virtual dengan sesama JBI.

“Itulah kenapa saya mengandalkan IM3. Lingkungan kampus Unhas luas, dan beberapa area kadang sinyalnya naik-turun. Tapi dengan jaringan IM3, saya bisa tenang. Mau unduh materi 50 halaman atau video call mendadak untuk simulasi, semua lancar. Koneksinya stabil dan anti-gangguan,” tuturnya.
Bagi Junaidi, profesi ini adalah bentuk pengabdian. Ia memastikan hak teman-teman difabel rungu untuk memperoleh informasi kesehatan yang sama pentingnya dengan peserta lain. Gerakan tangannya bukan sekadar terjemahan, melainkan jembatan komunikasi yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Peran Junaidi, didukung konektivitas IM3, menunjukkan bagaimana teknologi dan kepedulian dapat berjalan beriringan. Dalam BKGN Unhas 2025, IM3 memastikan Junaidi selalu terhubung dengan informasi penting, sementara Junaidi memastikan komunitas rungu terhubung dengan jalannya acara. Keduanya menghadirkan gambaran nyata tentang akses dan inklusi tanpa batas.
“Di momen penting seperti ini, tidak boleh ada yang terlewat. IM3 sudah menjadi backbone koneksi yang memungkinkan saya bekerja dengan baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Swandy Tjia, Head of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan bahwa IM3 di Sulawesi Selatan berkomitmen memperkuat jaringan bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. “Kami selain menawarkan paket yang terjangkau dan cakupan luas, kami juga hadir melalui program CSR, Indosat–IM3 rutin berkolaborasi dengan pemerintah dan komunitas untuk mendukung kesetaraan akses digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, IM3 terus memperluas dan memperkuat jaringan 4G/5G di wilayah Sulsel, kini menjangkau lebih dari 94 persen populasi. Beragam pilihan paket internet yang mudah diakses diharapkan dapat memenuhi kebutuhan digital masyarakat dari berbagai kalangan. (*)





