Menjaga Tradisi Maudu Lompoa Cikoang Silaturahmi, Spiritualitas, dan Identitas Budaya

Limabelas Indonesia, Cikoang, Takalar – Tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kembali digelar dengan penuh khidmat dan semarak, Minggu (21/9).

oplus_2

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini telah menjadi warisan budaya turun-temurun masyarakat Cikoang selama ratusan tahun.

Bagi warga, Maudu Lompoa bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi, menumbuhkan spiritualitas, sekaligus menjaga identitas budaya yang melekat kuat dalam kehidupan mereka.
Ritual yang Sarat Makna
Puncak acara Maudu Lompoa berlangsung di sekitar Sungai Cikoang yang telah menjadi saksi sejarah ritual ini.

Ribuan warga dan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan tersebut untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Prosesi dimulai dengan pembacaan Maulid Barzanji yang dilakukan secara bergantian oleh para imam dan tokoh agama, diiringi doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini juga ditandai dengan arak-arakan perahu yang dihias indah, berisi aneka makanan, hasil bumi, dan simbol-simbol kebersamaan. Perahu-perahu ini dilepaskan di Sungai Cikoang, menciptakan pemandangan yang unik dan penuh warna.

Ritual tersebut melambangkan pengabdian kepada ajaran Nabi, rasa syukur atas rezeki, serta semangat berbagi antarwarga.
Silaturahmi dan Kebersamaan
Maudu Lompoa selalu menjadi momen yang dinantikan masyarakat, termasuk para perantau asal Cikoang yang pulang kampung khusus untuk menghadiri acara ini.

Kehadiran ribuan orang di satu tempat menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Silaturahmi antarwarga, sanak keluarga, hingga tamu dari berbagai daerah memperkuat rasa persaudaraan yang menjadi nilai utama dari tradisi ini.

“Tradisi ini adalah jembatan antar generasi. Anak-anak kita diajak untuk mengenal nilai-nilai agama, adat, dan budaya sekaligus belajar menghargai warisan leluhur,” ujar Sukwansyah Karaeng Nojeng salah satu Pemuka Adat sekaligus tokoh masyarakat Cikoang.

Identitas Budaya yang Harus Dijaga, Selain sebagai kegiatan keagamaan, Maudu Lompoa juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya. Ritual ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Cikoang yang dikenal memiliki garis keturunan Sayyid (keturunan Arab) yang kuat.

Tradisi ini merupakan bukti akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal yang tetap terjaga harmoninya.

Tradisi Maudu Lompoa telah menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus ikon wisata budaya dan religi. “Di tengah arus modernisasi, Maudu Lompoa adalah benteng identitas kita. Selain menguatkan nilai spiritual, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata,” jelasnya.

Warisan yang Terus Hidup
Dengan semangat kebersamaan, masyarakat berharap Maudu Lompoa tetap dilestarikan dari masa ke masa. Para tokoh adat dan agama bersama pemerintah daerah pun berkomitmen untuk menjaga kemurnian tradisi ini agar tidak kehilangan esensinya.

Di tengah gempuran era digital, Maudu Lompoa adalah pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan yang berakar pada nilai-nilai luhur.

Tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah cerminan identitas, spiritualitas, dan harmoni yang menjadi kebanggaan masyarakat Cikoang, (*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *