“Pemilihan RT/RW Pa’Baeng-Baeng Momentum Menghidupkan Kembali Kepemimpinan Warga”

Oleh
Ibar Darmadi, S.IP
Lurah Pa’ Baeng-Baeng
Kec. Tamalate
—–
Pemilihan RT dan RW di Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, Kecamatan Tamalate, bukanlah sekadar agenda rutin lima tahunan yang selesai begitu kotak suara ditutup.

Di titik inilah kualitas demokrasi paling dasar diuji bukan di gedung-gedung perkantoran yang dingin, tetapi di lorong-lorong tempat warga berjabat tangan, saling menyapa, dan berbagi cerita mengenai kehidupan sehari-hari.

RT dan RW adalah simpul terdepan dalam sistem pemerintahan. Dalam banyak situasi, merekalah wajah pertama negara yang ditemui warga.

Karena itu, proses pemilihannya harus diperlakukan bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai ruang pembelajaran demokrasi yang autentik. Pa’Baeng-Baeng, dengan dinamika sosialnya yang hidup, sebenarnya memiliki modal besar untuk memperlihatkan bagaimana partisipasi warga dapat melahirkan kepemimpinan yang matang.

Di sini penting ditekankan bahwa kepemimpinan RT/RW bukan sekadar soal siapa yang dikenal paling banyak, atau siapa yang paling lantang berkomunikasi.

Kepemimpinan lingkungan menuntut kepekaan sosial, kesediaan bekerja tanpa banyak sorotan, serta kemampuan menjembatani kepentingan warga dengan program pemerintah.

Banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak semua siap memikul konsekuensi moral dan tanggung jawab administratif yang menyertainya.

Karena itu, pemilihan RT/RW di Pa’Baeng-Baeng mestinya menjadi ruang untuk menguji integritas.

Apakah calon pemimpin memahami bahwa jabatan ini bukan sekadar amanah, tetapi juga ladang pembinaan masyarakat?

Apakah mereka melihat warganya hanya sebagai angka dalam daftar pemilih, atau sebagai manusia yang membutuhkan pendampingan, keadilan, dan kepastian layanan?
Lebih jauh, Pemilihan RT/RW juga harus menopang literasi politik warga.

Masyarakat perlu memahami bahwa memilih pemimpin lingkungan bukan sekadar mengikuti arus atau instruksi, tetapi menimbang rekam jejak, kapasitas, dan komitmen sosial dari tiap calon.

Diplomasi warga dimulai dari cara mereka berdialog dan bermusyawarah, bukan dari perdebatan keras yang mengikis persatuan.

Pembelajaran demokrasi yang sehat adalah ketika warga bisa berbeda pilihan namun tetap menjaga silaturahmi. Ketika calon yang kalah tetap dihargai, dan calon yang menang mengerti bahwa ia dipilih untuk bekerja, bukan untuk berkuasa. Ketika warga memahami bahwa kritik bukan serangan, tetapi bentuk pengawasan dan pengawasan adalah bagian dari akhlak sosial, bukan permusuhan.

Pemilihan RT/RW di Pa’Baeng-Baeng seharusnya menghasilkan lebih dari sekadar pengurus baru. Ia harus menghasilkan kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang maju tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh kolaborasi yang setara.

RT/RW memang pemimpin, tetapi warga tetap pemilik kedaulatan.
Jika prosesnya dilakukan terbuka, berdasarkan musyawarah, dan mengedepankan etika, maka hasilnya akan terasa jauh lebih berdampak.

Keamanan lingkungan lebih terpelihara kebersihan lorong lebih teratur kegiatan sosial lebih hidup dan partisipasi warga lebih meningkat.

Pada akhirnya, pemimpin yang dipilih secara sehat akan bekerja dengan lebih tenang, lebih dipercaya, dan lebih dihormati.
Pa’Baeng-Baeng berada di persimpangan. Ia dapat menjadikan pemilihan RT/RW sebagai rutinitas yang lewat begitu saja, atau menjadikannya momentum memperkuat tata kelola permukiman yang modern, inklusif, dan beretika. Pilihan itu sepenuhnya berada di tangan warganya.

Dan ketika warga memilih dengan hati yang jernih dan pikiran yang dewasa, maka lingkungan ini tidak hanya menemukan pemimpinnya tetapi juga menemukan arah masa depannya,(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *