Limabelas Indonesia, Makassar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja sektor perbankan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) masih berada dalam kondisi stabil hingga November 2025. Stabilitas tersebut tercermin dari pertumbuhan aset, penghimpunan dana, serta penyaluran kredit yang tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian regional.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan total aset perbankan di Sulampua pada November 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,26 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp572,44 triliun.
Dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), perbankan Sulampua mencatat pertumbuhan sebesar 5,86 persen (yoy) menjadi Rp362,46 triliun. Struktur DPK masih didominasi oleh tabungan dengan pangsa 58,83 persen, diikuti giro sebesar 22,16 persen, serta deposito sebesar 19,02 persen.
Sementara itu, penyaluran kredit perbankan di Sulampua pada periode yang sama tumbuh sebesar 4,05 persen (yoy) dengan total kredit mencapai Rp449,98 triliun. Portofolio kredit didominasi oleh kredit konsumtif dengan pangsa 52,06 persen, sedangkan kredit produktif tercatat sebesar 47,94 persen. Pertumbuhan kredit dinilai relatif tertahan seiring terjadinya kontraksi pada segmen kredit modal kerja.
Meski demikian, kualitas aset perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada pada level 2,99 persen, masih di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Selain itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan Sulampua tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 124,14 persen. Kondisi ini mencerminkan optimalisasi fungsi intermediasi perbankan yang aktif dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan kepada masyarakat.
OJK menilai kinerja perbankan yang stabil tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah serta memperkuat ketahanan perekonomian Sulampua ke depan.





