Limabelas Indonesia, PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM) Grup, subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang Marine, Equipment, Port Services, Dredging, dan Shipyard (MEPS), menyambut positif pemberlakuan kegiatan pengolongan kapal selama 24 jam di perairan Sungai Mahakam. Dukungan tersebut diwujudkan melalui optimalisasi kesiapan operasional, sarana dan prasarana pemanduan, serta penguatan teknologi pendukung.
Kebijakan pengolongan 24 jam merupakan hasil kolaborasi antara instansi pemerintah, instansi teknis, dan pelaku usaha pelayaran dalam merumuskan strategi penanganan isu keselamatan dan kepadatan lalu lintas kapal di Sungai Mahakam. Langkah ini juga mempertimbangkan aspek keamanan infrastruktur vital dan kelancaran alur pelayaran.
Direktur Operasi dan Teknik SPJM, Edward Napitupulu, menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh inisiatif pemerintah melalui KSOP Kelas I Samarinda.
“Sebagai bagian dari Pelindo Grup yang menangani kegiatan pemanduan dan penundaan di perairan Sungai Mahakam, kami menyambut baik pemberlakuan pengolongan 24 jam sebagai solusi untuk meningkatkan kelancaran kegiatan serta mengantisipasi potensi risiko di lapangan,” ujarnya.
Senior Manager Wilayah 4 SPJM, Al Abrar, menjelaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memastikan pelayanan optimal selama 24 jam. Pengolongan akan dilakukan di sejumlah titik, yakni Martadipura, Tenggarong, Mahulu, Mahakam, dan Mahkota.
Sebelumnya, pengolongan kapal turun berlangsung pukul 06.00–10.00 WITA. Dengan pola baru, jadwal pengolongan menjadi dua kali pengolongan naik dan dua kali pengolongan turun dalam sehari.
Dari sisi sumber daya manusia (SDM), SPJM melakukan penyegaran terhadap personel eksisting dan menambah 10 pandu baru, sehingga total pandu menjadi 42 orang. Seluruh pandu memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, perusahaan juga melakukan evaluasi performa kapal tunda.
Untuk mendukung pelayanan tunda escort di wilayah Mahulu, SPJM menyiapkan satu unit kapal tunda escort tambahan, melengkapi tiga unit kapal tunda assist yang telah beroperasi.
Dari sisi teknologi, SPJM mengoptimalkan Planning and Control Room (PnC) terintegrasi serta meningkatkan kapasitas Automatic Identification System (AIS) guna mendukung pemantauan layanan secara real-time. Langkah ini juga mencakup standarisasi layanan, integrasi data keselamatan kerja (HSSE), dan peningkatan transparansi pelayanan.
Edward menegaskan, upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dan memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Kegiatan pemanduan dan penundaan membutuhkan peran aktif semua pihak dalam menjaga keselamatan pelayaran. Dengan sinergi yang baik, kami optimistis pelayanan di perairan Sungai Mahakam dapat berjalan lebih cepat, aman, efisien, dan andal,” tutupnya. (*)





