Tradisi Appalili dan Digitalisasi Pupuk, Jalan Petani di Gowa Menuju Swasembada

Tradisi Appalili dengan mengeluarkan Bajak atau Appassuluk Pajjeko penanda musim tanam di Sapaya Kabupaten Gowa Sulsel. (Foto : Limabelas Indonesia)

Limabelas Indonesia, Makassar, 27 Desember 2025 – Sering terjadi gagal panen padi akibat serangan hama, kemarau yang panjang atau keterlambatan distribusi pupuk masih jadi cerita tahunan di sejumlah wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

“Kadang sawah sudah menguning sebelum waktunya kadang juga batang padi rebah, ini mi yang bikin kami sering mengalami kerugian besar,” ujar Daeng Tompo (45) seorang Petani, Sabtu, (27/12/2025).

Di Kabupaten Gowa masih memegang erat tradisi turun-temurun sebagai bentuk ikhtiar dan harapan. Tradisi itu bernama Appalili, ini wujud kearifan lokal berupa upacara adat tradisional sebagai penanda dimulainya musim tanam padi. Bertujuan menolak bala, memohon berkah panen melimpah, serta menjaga harmoni dengan alam, melibatkan benda seperti bajak atau dalam Bahasa Makassar disebut Pajjeko yang dipimpin oleh tokoh adat.

Seperti di Kelurahan Sapaya, yang berjarak sekira 55 Kilometer dari kota Makassar. Di wilayah ini masih memegang teguh ritual Appalili yang biasa dilakukan jelang masuk musim tanam baru.

Sejumlah petani dan perangkat desa sudah sejak pagi berkumpul di lahan persawahan yang siap digarap. Dengan sebutan Appassuluk Pajjeko atau mengeluarkan bajak sawah bermesin (Traktor tangan), tampak 2 orang petani berdiri di belakang bajak sebagai pengemudi. Ia menyalakan mesin, mengatur gas, dan memegang setang kemudi dengan kuat. Setelah mesin hidup, traktor perlahan bergerak maju. Pisau bajak mulai berputar dan masuk ke dalam tanah sawah.

“Kami biasanya setelah tradisi Appalili ini lalu berkumpul untuk Tudang Sipulung (tradisi musyawarah mufakat), “ sebut Daeng Tompo.

Masalah pupuk jadi topik yang paling sering muncul. Petani sepakat, selain cuaca dan hama, ketersediaan pupuk yang tepat waktu sangat menentukan hasil panen. Saat ini, berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah dinilai cukup membantu petani dalam memperoleh pupuk, sehingga mereka berharap hasil panen ke depan dapat lebih melimpah. Apalagi dengan hadirnya pupuk dengan harga subsidi. Harga satu sak pupuk Urea dan NPK yang dulunya mencekik di angka Rp 135.000, kini turun drastis menjadi hanya Rp 90.000 per sak.

“Kalo ambil pupuk di kios, kami cukup kasih liat KTP dan terdaftar di kelompok tani, aman ji,” Daeng Tompo sumringah.

Petani Daeng Tompo menebus Pupuk bersubsidi dengan hanya memperlihatkan KTP di Kios Pupuk (Foto : Limabelas Indonesia)

Menjawab kebutuhan tersebut, PT Pupuk Indonesia terus memperkuat pelayanan serta pengawalan distribusi pupuk, khususnya di Sulawesi Selatan, agar pupuk tersedia sesuai kebutuhan petani di lapangan.

Ditemui di Kantor PT Pupuk Indonesia Jalan AP Pettarani Makassar, General Manager Regional 4, Wisnu Ramadhani, mengatakan saat ini pihaknya sudah mengembangkan sistem pemantauan pupuk berbasis digital dan real time. Lewat sistem itu, ketersediaan dan penyaluran pupuk bisa dipantau dari hulu sampai ke tingkat petani.

“Kami sudah punya sistem pemantauan pupuk digital yang real time. Stok pupuk di Sulawesi Selatan bisa kami pantau sampai tingkat kabupaten. Setiap kabupaten juga punya gudang sendiri untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya,” kata Wisnu.

Ia menjelaskan, pasokan pupuk ke Sulawesi Selatan berasal dari dua pabrikan utama, yakni Pupuk Kaltim Bontang dan Petrokimia Gresik. Pupuk dikirim lewat jalur laut, baik dalam bentuk curah maupun kemasan, lalu disalurkan ke gudang-gudang sebelum sampai ke kios dan petani.

General Manager Regional 4 PT Pupuk Indonesia, Wisnu Ramadhani. (Foto : Limabelas Indonesia)

Soal ketersediaan, Wisnu memastikan kondisi pupuk di Sulawesi Selatan tergolong aman. Hingga Desember 2025, stok pupuk masih ratusan ribu ton dan dipastikan cukup hingga akhir musim tanam sekitar Februari–Maret 2026.

“Per 16 Desember 2025, stok pupuk di Sulawesi Selatan sekitar 645 ribu ton. Sekitar 600 ribu ton di antaranya sudah terserap petani lewat kios. Jadi masih sangat aman,” ujarnya.

Dalam pengawalan pupuk subsidi, PT Pupuk Indonesia memanfaatkan beberapa aplikasi digital. Mulai dari Distribution Planning and Control System (DPCS) untuk memantau stok, Web Commerce (WCM) untuk transaksi ke distributor dan kios, hingga aplikasi iPubers yang digunakan petani saat menebus pupuk subsidi.

“Lewat iPubers (Integrasi Pupuk Bersubsidi), kami bisa pantau penebusan pupuk sampai ke tingkat petani. Bahkan sekarang sudah dikembangkan sistem baru yang bisa memantau durasi pengiriman pupuk dari distributor ke kios,” jelas Wisnu.

Sistem ini juga berfungsi sebagai alat pengawasan. Jika ada pupuk yang keluar dari gudang tapi tak sampai ke kios, sistem akan langsung mendeteksi.

“Kalau ada pelanggaran, distributor atau kios bisa kami panggil dan dikenakan sanksi. Di Bulukumba misalnya, kami sempat temukan satu distributor dan beberapa kios yang melanggar,” tegasnya.

Penguatan distribusi ini mulai dirasakan langsung petani. Daeng Tompo mengatakan ketersediaan pupuk tepat waktu sangat berpengaruh pada hasil panen. “Kalau pupuk ada dan sesuai kebutuhan, hasil panen juga lebih bagus. Produksi padi bisa meningkat,” ujarnya.

Secara nasional, alokasi pupuk subsidi tahun ini ditetapkan sebesar 9,5 juta ton. Untuk Sulawesi Selatan sendiri, alokasinya sekitar 845 ribu ton, sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Hingga 12 Desember 2025, sekitar 1,1 juta petani di Regional 4 sudah menebus pupuk, dari total 1,6 juta petani terdaftar.

Meski begitu, masih ada sekitar 30 persen petani yang belum memanfaatkan jatah pupuknya. Penyebabnya beragam, mulai dari pindah profesi, pindah domisili, hingga kendala ekonomi.

“Ini jadi perhatian kami bersama pemerintah daerah dan penyuluh,” kata Wisnu.

Ia menegaskan, pemupukan yang tepat dosis dan tepat waktu bisa berdampak besar pada hasil panen. “Kajian Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi menunjukkan produktivitas bisa naik 150 sampai 200 persen,” ujarnya.

Di tengah ritual adat Appalili, doa, dan harapan petani Gowa, penguatan sistem distribusi pupuk oleh PT Pupuk Indonesia secara digital dengan pengawasan ketat, jadi ikhtiar modern yang berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Harapannya sama, yakni panen lebih melimpah dan Sulawesi Selatan tetap jadi lumbung pangan Indonesia Timur. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *