Limabelas Indonesia, Makassar, 17 November 2025 — Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Muhammad Anis Matta memaparkan arah baru diplomasi Indonesia terhadap dunia Islam dalam acara Dialog Kebangsaan di Aula Teater I Gift, Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Senin (17/11). Dalam orasinya, Anis menegaskan pentingnya memahami dinamika geopolitik dunia Islam serta posisi strategis Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Anis menyebut penunjukannya sebagai Wakil Menteri khusus yang menangani urusan dunia Islam sebagai terobosan kebijakan luar negeri. Sebelumnya, isu-isu terkait dunia Islam tersebar di berbagai direktorat. “Tidak ada satu pintu khusus yang mengoordinasikan semuanya, padahal dunia Islam seharusnya dipandang sebagai satu entitas strategis,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengalamannya menekuni isu-isu dunia Islam telah dimulai sejak masa mahasiswa, termasuk melakukan perjalanan ke berbagai negara muslim sejak 1996. Dari pengalaman tersebut, ia merumuskan pendekatan geopolitik yang relevan bagi Indonesia.
Menurut Anis, pemahaman geografi merupakan fondasi penting dalam merumuskan kebijakan luar negeri. “Letak geografis adalah premis dasar dalam perencanaan. Kita hidup di wilayah yang terhubung dengan Asia, Afrika, dan Eropa. Indonesia bukan negara kecil; posisinya strategis,” katanya.
Ia juga menyinggung sejarah masuknya Islam ke Nusantara serta warisan besar peradaban Islam di bidang geografi. Mengutip teori Prof. Dr. Hamka, ia menyebut Islam telah hadir sejak abad ke-7, dibawa para penjelajah yang menempuh perjalanan puluhan tahun.
Potensi Ekonomi Dunia Islam
Dalam pemaparannya, Anis menyoroti potensi ekonomi dunia Islam yang menurutnya masih jauh dari optimal. Ia membandingkan nilai ekonomi gabungan Indonesia, Turki, dan Arab Saudi yang masih lebih rendah dibanding kekayaan beberapa individu terkaya dunia.
Total ekonomi 57 negara Islam, kata Anis, berkisar 7.000–8.000 miliar dolar. “Setara dengan dua atau tiga perusahaan raksasa dunia,” ungkapnya.
Hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara Islam tercatat sekitar 62 miliar dolar per tahun, kalah jauh dibanding hubungan dagang Indonesia–Tiongkok yang mencapai 132 miliar dolar. Dengan Uni Eropa serta Amerika Serikat, nilai perdagangan masing-masing berada di kisaran 30 miliar dolar.
“Kita belum punya orientasi kuat ke dunia Islam, padahal peluangnya besar. Inilah yang sedang kami bangun: integrasi ekonomi dan diplomasi dengan dunia Islam sebagai pasar potensial,” jelasnya.
Peran Akademik dan Diplomasi Budaya
Anis juga mengajak dunia akademik berperan lebih aktif dalam kajian geopolitik dan kerja sama internasional. Ia mendorong perguruan tinggi, khususnya Unismuh, untuk memperluas peluang kunjungan dan kolaborasi luar negeri bagi para dosen.
Selain itu, Kemenlu tengah meningkatkan jumlah beasiswa bagi mahasiswa dari negara-negara Islam untuk belajar di Indonesia. “Tahun ini ada 40 beasiswa, dan targetnya bisa naik menjadi 170,” kata Anis.
Ia juga menyebut pelaksanaan Festival Film Negara-Negara Islam pada September lalu yang menayangkan 45 film dan ditonton lebih dari 2.000 penonton. Festival tersebut rencananya akan diperbesar sebagai ajang pertukaran budaya, termasuk musik, fesyen, dan kuliner. “Tujuan besar kita adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya Islam,” tegasnya.
Rektor Unismuh: Perkembangan Kampus Menggembirakan
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unismuh Makassar Dr. Abdul Rakhim Nanda menyampaikan capaian-capaian terbaru kampus tersebut. Ia menyebut Unismuh berhasil masuk peringkat 1.500 dunia dan berada di kisaran 1.200 dalam Asia University Ranking.
“Kita juga masuk UI GreenMetric, dan baru-baru ini diaudit secara eksternal oleh auditor publik dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian,” ujarnya.
Abdul Rakhim menambahkan bahwa Unismuh dipercaya sebagai penyelenggara seleksi dan pelatihan pekerja migran yang akan diberangkatkan ke Arab Saudi. “Ini amanah yang datang setelah kunjungan Pak Wamen. InsyaAllah kita akan mendapat lebih banyak mitra lagi,” katanya.
Acara Dialog Kebangsaan ini diharapkan menjadi ruang diskusi strategis bagi sivitas akademika untuk memahami dinamika global yang jarang dibahas di lingkungan kampus.(*)





