Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Limabelas Indonesia, Jakarta – DEWAN Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lain melaporkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya. Mereka melaporkan JK atas pernyataannya dalam ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ketua Umum GAMKI Sahat Martin menilai ucapan JK dalam forum itu menimbulkan polemik dan keresahan. “Kami melaporkan kepada Polda Metro Jaya sehingga pernyataan yang sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan di media sosial ini bisa lebih terarah untuk kemudian diselesaikan secara hukum,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Senin, 13 April 2026.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma menilai kalimat yang dilontarkan JK dalam forum itu tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katolik. Pihaknya mempermasalahkan soal frasa ‘syahid’ yang diungkap JK atas konflik yang menyinggung agama, termasuk di Poso dan Ambon.

Menurut Stefanus, ajaran agamanya tidak mengenal kekerasan serta pembunuhan terhadap sesama manusia. “Harapan kami, sebagai tokoh bangsa, Bapak JK segera merespons ini dengan baik, paling tidak memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan mengklarifikasi semuanya,” kata dia.

Dihubungi terpisah, juru bicara JK, Husain Abdullah, menilai organisasi yang melaporkan JK seharusnya mendalami konteks pidato lengkap di UGM pada 5 Maret 2026 lalu. Menurutnya, dalam agenda itu, JK memberikan pembelajaran untuk dua pihak yang bertikai, bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.

“Sebelum melaporkan, sebaiknya mengkaji sebaik-baiknya konten yang sedang viral, karena terpotong dan diberi narasi yang melenceng substansinya,” ujarnya saat dihubungi, Senin.

Husain menilai isi ceramah mantan wakil presiden itu mengungkap realitas sosiologis yang terjadi pada umat Kristen dan Islam yang tengah berkonflik saat kerusuhan Poso dan Ambon. Menurutnya, saat itu, kedua belah pihak menggunakan jargon agama untuk saling membunuh. Oleh karena itu, kedua konflik itu bernuansa SARA dan sulit dihentikan.

“Untuk mengatasinya, kata Pak JK di depan jemaah Masjid UGM, pemahaman kelompok yang bertikai ini harus diluruskan karena keduanya telah melakukan kekeliruan,” kata dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *