YGC Makassar Kick Off Program Girls Act, Perkuat Perlindungan dan Edukasi Kesehatan Perempuan Muda

Limabelas Indonesia, Makassar, 14 Februari 2026 – Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, Yayasan Gaya Celebes (YGC) Makassar menggelar Kick Off Program Girls Act – Berdayakan Perempuan Ubah Dunia di Hotel Jolin Makassar, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama YGC dengan AHF Indonesia dan Kementerian Sosial RI.

Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas pelajar dan mahasiswa perempuan dalam pencegahan serta penanganan infeksi menular seksual (IMS), HIV, dan kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan berbasis gender online (KBGO).

Direktur YGC Makassar, Andi Akbar, menjelaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak menjadi isu krusial dalam pembangunan berkelanjutan.

“Perlindungan terhadap perempuan dan anak menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan berkelanjutan dan kemajuan bangsa. Dalam konteks Indonesia, perempuan dan anak merupakan kelompok yang selalu rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, stigmatisasi, diskriminasi, dan eksploitasi,” ujar Andi Akbar.

Menurutnya, kerentanan tersebut membutuhkan respons konkret melalui edukasi dan penguatan kapasitas generasi muda perempuan agar mampu memahami hak-hak mereka dan melindungi diri dari berbagai risiko sosial maupun kesehatan.

Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DPPPA Kota Makassar, Hamna Faisal, ST., MM, menilai persoalan ini semakin mendesak seiring meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender dan ketimpangan akses pendidikan.

“Isu ini semakin mendesak mengingat semakin meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender, penyalahgunaan napza, serta ketidaksetaraan akses pendidikan dan kesempatan bagi perempuan. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya perlindungan yang lebih kuat, terutama dalam memberikan edukasi tentang hak-hak perempuan dan anak, serta isu-isu kesehatan reproduksi seperti HIV/AIDS, menstruasi, dan kekerasan berbasis gender,” ungkap Hamna.

Ia menambahkan, perempuan muda, khususnya pelajar dan mahasiswa, menghadapi kerentanan berlapis mulai dari minimnya akses informasi kesehatan reproduksi, stigma, diskriminasi, hingga risiko IMS dan HIV. Di Kota Makassar sendiri, ketimpangan akses informasi dan pendidikan terkait isu tersebut masih cukup besar, terutama bagi siswa SMA dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Kerentanan ini selaras dengan temuan CATAHU 2024 Komnas Perempuan yang menunjukkan tren kekerasan berbasis gender belum banyak berubah. Pelaku dan korban didominasi kelompok pelajar dan mahasiswa, sementara di ranah publik, KBGO menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan. Kondisi tersebut juga beririsan dengan agenda pencegahan dan penanganan HIV pada remaja, mengingat kekerasan, relasi tidak setara, serta paparan risiko di ruang digital dapat meningkatkan kerentanan terhadap perilaku berisiko dan menghambat akses layanan kesehatan.

Senior Program Koordinator AHF Indonesia, Lusi Siagan, menyampaikan bahwa program Girls Act tahun 2026 dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik pelajar dan mahasiswa.

“Prioritas Girls Act di tahun 2026 dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik pelajar dan mahasiswa melalui penguatan Pendidikan Seksualitas Komprehensif (CSE) yang aman dan relevan, dukungan sebaya, serta mekanisme rujukan layanan ramah remaja. Program ini juga memperkuat kepatuhan pengobatan dan keberlanjutan perawatan jangka panjang bagi anak perempuan yang hidup dengan HIV melalui pendampingan psikososial, penguatan literasi kesehatan, dan jejaring multipihak di sekolah, kampus, serta layanan kesehatan,” jelas Lusi.

Sementara itu, Direktur Rumah Mama Sulawesi Selatan, Lusia Palulungan, yang hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, menyambut baik pelaksanaan program ini.

“Tujuan program ini sangat baik karena melalui Kick Off and Capacity Building Girls Act Member, program ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelajar dan mahasiswa perempuan dalam pencegahan dan penanganan IMS/HIV serta kekerasan berbasis gender, termasuk KBGO, melalui penguatan CSE, dukungan sebaya, dan jejaring rujukan layanan ramah remaja,” katanya.

Ia menambahkan, program ini juga menyiapkan anggota Girls Act menjadi peer educator di sekolah dan kampus, memperkuat kepatuhan pengobatan serta keberlanjutan perawatan jangka panjang bagi anak perempuan yang hidup dengan HIV. Selain itu, jika memungkinkan, program ini turut melibatkan anak laki-laki dan orang tua dalam edukasi kesehatan seksual dan reproduksi untuk memperkuat dampak di tingkat komunitas.

Melalui Girls Act, YGC Makassar bersama mitra berharap lahir generasi perempuan muda yang lebih berdaya, memahami hak dan kesehatan reproduksinya, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah, kampus, dan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *