Limabelas Indonesia, Sorong — Suasana Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong, tampak lebih hidup sejak Kamis (22/5/2026). Beragam produk lokal, kerajinan khas Papua, hingga aroma kopi unggulan menyambut para pengunjung dalam gelaran Torang Creative and Ecotourism Festival (TCEF) 2026 yang berlangsung hingga 24 Mei 2026.
Festival yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat ini menjadi ruang pertemuan bagi pelaku UMKM, komunitas kreatif, dan sektor pariwisata dari Papua Barat serta Papua Barat Daya. Tidak sekadar pameran, kegiatan ini juga menghadirkan semangat kolaborasi untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya dan potensi lokal.
Mewakili Gubernur Papua Barat, Asisten II Sekretariat Daerah Papua Barat Melkias Werinussa mengatakan kedua provinsi di Tanah Papua memiliki keterhubungan ekonomi yang kuat, terutama melalui perdagangan, pariwisata, dan pengembangan UMKM.
Menurutnya, pelaku usaha kecil memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang khas bagi para pengunjung, mulai dari kuliner lokal, kerajinan tangan, hingga cerita budaya yang menjadi identitas daerah.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nasrau. Ia menyebut TCEF telah menjadi agenda rutin yang dinantikan karena memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk belajar, berkembang, sekaligus memperluas pasar.
“Tema tahun ini sejalan dengan arah pembangunan daerah, di mana sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono menilai TCEF bukan hanya ajang promosi produk, tetapi juga wadah yang mempertemukan UMKM, pelaku wisata, komunitas kreatif, dan layanan keuangan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 25 UMKM unggulan turut ambil bagian. Mereka merupakan peserta binaan program 4th KASUARI atau Kurasi, Pelatihan, dan Peningkatan Kapasitas UMKM Berdikari. Dari jumlah tersebut, sembilan pelaku usaha berasal dari Papua Barat dan 16 lainnya dari Papua Barat Daya.
Beragam produk ditampilkan dalam festival ini, mulai dari olahan pangan lokal, kerajinan dan wastra khas Papua, hingga kopi unggulan yang memiliki potensi pasar nasional maupun internasional. Kehadiran UMKM berbasis desa wisata juga menjadi daya tarik tersendiri karena memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal terlibat langsung dalam pengembangan pariwisata.
Melalui TCEF 2026, diharapkan tercipta ekosistem yang semakin kuat antara UMKM, sektor pariwisata, dan teknologi digital, sehingga pelaku usaha lokal mampu tumbuh lebih kompetitif dan membawa potensi Papua semakin dikenal luas.(Rachel)





