BI Sulsel Tingkatkan Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah untuk Tangkal Uang Palsu

Limabelas Indonesia, Makassar, 10 Juni 2026 – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sulawesi Selatan terus memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya mengenali keaslian uang rupiah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Unit Layanan dan Pengolahan Uang BI Kantor Perwakilan Sulsel, Haminuddin, dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) bersama jurnalis dan kreator konten di Makassar, Rabu (10/6/2026). Dalam materi bertajuk Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, Haminuddin menjelaskan bahwa pelaku peredaran uang palsu umumnya menyasar kelompok masyarakat yang dianggap lebih rentan.

“Biasanya yang menjadi target antara lain ibu-ibu, penjaga warung, masyarakat yang tingkat kewaspadaannya masih rendah, serta orang-orang yang sedang terburu-buru saat bertransaksi,” ujar Haminuddin.

Ia menjelaskan, salah satu modus yang kerap digunakan pelaku adalah membeli barang dengan nominal kecil menggunakan uang pecahan besar. Misalnya, pelaku menggunakan uang pecahan Rp100.000 untuk membeli satu batang rokok, kemudian berpura-pura terburu-buru sehingga korban tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksa keaslian uang yang diterima.

Untuk menekan peredaran uang palsu, Bank Indonesia bersama berbagai pihak aktif melakukan edukasi langsung kepada masyarakat. Kegiatan sosialisasi dilakukan di pasar tradisional maupun pusat-pusat keramaian dengan melibatkan perbankan agar masyarakat lebih memahami cara mengenali uang asli dan lebih waspada saat bertransaksi.

Haminuddin juga menyinggung salah satu kasus peredaran uang palsu yang terjadi di Sulsel. Berdasarkan pengakuan tersangka, terdapat sekitar 600 lembar uang palsu pecahan Rp50.000 yang telah diedarkan dengan nilai total mencapai Rp30 juta.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 276 lembar berhasil diamankan sebagai barang bukti. Setelah dilakukan pemeriksaan, seluruh uang yang diamankan dinyatakan palsu,” katanya.

Atas kondisi tersebut, BI mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya serta selalu memeriksa uang yang diterima dalam setiap transaksi. Jika menemukan atau menerima uang yang diragukan keasliannya, masyarakat dapat membawa uang tersebut ke bank atau kantor Bank Indonesia untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Haminuddin juga menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap uang rupiah fisik masih cukup tinggi meskipun Bank Indonesia terus mendorong penggunaan transaksi digital.

Menurutnya, kebutuhan uang tunai biasanya meningkat pada momen-momen tertentu seperti Ramadan dan Idulfitri. Uang tunai masih banyak digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk tradisi silaturahmi dan pemberian uang kepada keluarga.

“Tingginya antusiasme masyarakat terhadap layanan penukaran uang yang disediakan Bank Indonesia menjelang hari raya menunjukkan bahwa uang rupiah fisik masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, Bank Indonesia berharap dukungan media massa, komunitas, serta para kreator konten untuk turut menyebarluaskan edukasi mengenai ciri-ciri uang asli, cara mengenali uang palsu, serta langkah yang harus dilakukan ketika menemukan uang yang diragukan keasliannya.

Melalui edukasi yang luas dan berkelanjutan, BI optimistis tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap peredaran uang palsu dapat terus meningkat sehingga penyebarannya dapat dicegah secara lebih efektif. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *