Limabelas Indonesia, MAKASSAR — Komunitas Orangtua dan Anak Down Syndrome (KOADS) Sulawesi Selatan menggelar festival seni dan pemberdayaan bertajuk “Motif Tanpa Batas” di kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam, Ujung Pandang, Makassar.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 18-20 Agustus 2026, tersebut melibatkan 15 anak dengan Down Syndrome yang didampingi langsung oleh orang tua masing-masing. Mereka berkarya melalui seni batik sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus kampanye inklusivitas.
Berbeda dari perayaan kemerdekaan pada umumnya, KOADS Sulsel menempatkan anak-anak dengan Down Syndrome sebagai aktor utama. Di tengah kawasan heritage Benteng Rotterdam, mereka menciptakan karya menggunakan teknik batik ciprat dan cap.
Ketua KOADS Sulawesi Selatan, Ibu Rahmatullah, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas membatik, tetapi menjadi ruang pemberdayaan dan ekspresi bagi anak-anak dengan Down Syndrome.
“Kegiatan ini bukan sekadar kegiatan membatik atau mengisi waktu luang di hari libur nasional. Bagi kami di KOADS Sulawesi Selatan, membatik merupakan salah satu bentuk pemberdayaan dan ruang berekspresi bagi anak-anak dengan Down Syndrome,” ujarnya saat ditemui pada hari pertama kegiatan, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar, berkreasi, melatih motorik halus, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk belajar, berkreasi, melatih motorik, meningkatkan rasa percaya diri, serta menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan dan potensi yang dapat terus dikembangkan,” katanya.
Ia menegaskan, KOADS Sulsel ingin mengubah pandangan masyarakat yang selama ini cenderung menempatkan penyandang disabilitas hanya sebagai penerima manfaat.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa anak dengan Down Syndrome hanya sebagai penerima manfaat. Mereka juga dapat menjadi pelaku, pencipta, dan bagian penting dari masyarakat,” tegasnya.
Dalam proses berkarya, ke-15 anak diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi kreativitas masing-masing. Tidak ada tuntutan agar seluruh karya memiliki motif yang sama.
“Melalui teknik batik ciprat dan cap, setiap anak dapat menghasilkan karya dengan caranya masing-masing. Tidak ada karya yang harus sama, karena setiap anak memiliki keunikan. Dari sinilah lahir semangat ‘Motif Tanpa Batas’—bahwa kreativitas, kesempatan, dan potensi anak-anak kita tidak boleh dibatasi oleh perbedaan,” jelas Ibu Rahmatullah.
Kehadiran orang tua juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Setiap anak didampingi langsung oleh orang tuanya selama proses menciptakan karya.
Selain memberikan dukungan teknis, pendampingan tersebut menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk membangun interaksi serta memberikan rasa aman kepada anak dalam berekspresi.
Pemilihan Benteng Rotterdam sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Kawasan yang menjadi salah satu situs bersejarah di Makassar itu menjadi ruang publik untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berkarya dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak penyandang disabilitas untuk hidup mandiri, berkreasi, serta memperoleh kesempatan yang setara tanpa diskriminasi.
Sementara itu, Manajer Program Urban Inclusivity, Kota Kita, Nina Asterina, menilai kegiatan “Motif Tanpa Batas” menjadi contoh konkret pemanfaatan ruang publik secara inklusif.
“Setiap warga memiliki cara tersendiri untuk berkarya dan bersuara. Kegiatan ‘Motif Tanpa Batas’ menghadirkan semangat warga muda dan adik-adik Down Syndrome untuk berpartisipasi, menyemarakkan keberagaman ekspresi di kota ini,” kata Nina.
Menurutnya, ruang publik seperti Benteng Rotterdam tidak hanya berfungsi sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi yang terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat.
“Melalui inisiatif ini, kita memberikan ruang untuk bersuara, berekspresi, dan turut membangun kota. Ketika anak-anak dengan disabilitas intelektual mengambil ruang di kawasan heritage, mereka sedang menantang norma eksklusi yang selama ini tak terlihat. Mari bersama membangun kota Makassar yang lebih inklusif,” ujarnya.
Ketua KOADS Sulsel berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut dan membuka semakin banyak ruang bagi anak-anak dengan Down Syndrome untuk berkarya, mandiri, dan produktif.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak ruang bagi anak-anak dengan Down Syndrome untuk berkarya, mandiri, produktif, dan diterima secara setara di tengah masyarakat,” harapnya.
Festival “Motif Tanpa Batas” menjadi bagian dari pesan KOADS Sulsel bahwa semangat kemerdekaan harus dapat dirasakan seluruh anak bangsa. Melalui karya seni, mereka menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berkreasi dan berkontribusi di ruang publik. (*)





