Limabelas Indonesia, Makassar – Transformasi digital telah mengubah pola hidup masyarakat, khususnya generasi muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar komputer, laptop, maupun telepon pintar. Di balik kemudahan teknologi tersebut, tersimpan ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian, yakni Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau gangguan pada sistem otot, tulang, sendi, tendon, dan jaringan penunjang tubuh akibat postur kerja yang tidak ergonomis.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu kesehatan kerja yang semakin relevan di era digital, Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Politeknik Kesehatan Megarezky (Polimerz) menyelenggarakan Kuliah Pakar bertempat di Meeting Room Polimerz, Selasa (28/7/2026).
Mengusung tema “Ergonomi di Era Digital: Mencegah Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Gen-Z Akibat Penggunaan Gadget”, kegiatan ini menghadirkan pakar ergonomi dan kesehatan kerja, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Yahya, M.Kes., M.Eng., IPU., ASEAN Engineer, yang dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi dengan kepakaran di bidang rekayasa ergonomi, keselamatan kerja, dan kesehatan lingkungan kerja.
Kuliah pakar ini diikuti oleh dosen, mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta sivitas akademika Polimerz. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan penguatan kompetensi melalui interaksi langsung dengan para pakar sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja.
Dalam pemaparannya, Prof. Muhammad Yahya menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap perilaku kerja dan gaya hidup generasi muda. Intensitas penggunaan gadget yang tinggi, durasi duduk yang panjang, serta minimnya aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama munculnya berbagai gangguan muskuloskeletal.
Menurutnya, ergonomi tidak hanya berbicara mengenai kenyamanan bekerja, tetapi juga merupakan pendekatan ilmiah untuk menyesuaikan pekerjaan, alat, dan lingkungan dengan kemampuan manusia sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mencegah penyakit akibat kerja.
Beliau menekankan bahwa penerapan prinsip ergonomi harus dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga postur tubuh saat menggunakan perangkat digital, mengatur tinggi meja dan kursi kerja, memberikan waktu istirahat secara berkala, hingga melakukan peregangan (stretching) untuk mengurangi ketegangan otot. Kesadaran tersebut menjadi sangat penting bagi Generasi Z yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap perangkat digital dalam aktivitas belajar maupun kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Prof. Muhammad Yahya menguraikan bahwa Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup, produktivitas, hingga biaya kesehatan apabila tidak dicegah sejak dini. Oleh karena itu, edukasi ergonomi perlu menjadi bagian dari budaya hidup sehat, baik di lingkungan pendidikan maupun dunia industri.
Kuliah pakar berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang menunjukkan tingginya antusiasme peserta. Berbagai pertanyaan disampaikan mahasiswa mengenai penerapan ergonomi dalam aktivitas akademik, penggunaan perangkat digital secara aman, hingga implementasi sistem ergonomi pada lingkungan kerja modern yang semakin terdigitalisasi.
Wakil Direktur I Politeknik Kesehatan Megarezky, Dr. M. Anas, SE., S.KM., M.Kes., menyampaikan bahwa penyelenggaraan kuliah pakar merupakan bagian dari komitmen institusi dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tantangan dunia kerja.
Menurutnya, isu ergonomi merupakan salah satu aspek strategis dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang harus dipahami oleh mahasiswa sejak dini, mengingat perubahan pola kerja akibat digitalisasi telah melahirkan berbagai risiko kesehatan baru yang memerlukan pendekatan preventif berbasis keilmuan.
“Melalui kuliah pakar ini, kami ingin membekali mahasiswa tidak hanya dengan pemahaman teoritis, tetapi juga wawasan praktis dari seorang pakar yang memiliki pengalaman luas di bidang ergonomi dan keselamatan kerja. Harapannya, lulusan Polimerz mampu menjadi tenaga profesional yang responsif terhadap tantangan kesehatan kerja di era digital serta mampu mengembangkan budaya kerja yang sehat, aman, dan produktif,” ujar Dr. M. Anas.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Polimerz sebagai program studi yang konsisten menghadirkan inovasi pembelajaran melalui kolaborasi dengan para akademisi dan praktisi nasional. Melalui forum ilmiah semacam ini, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, berbasis bukti (evidence-based), serta mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja dalam berbagai sektor industri yang terus berkembang mengikuti transformasi digital.
Dengan terselenggaranya kuliah pakar ini, Polimerz kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang unggul, profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang berkelanjutan di Indonesia.(*)





