Mahasiswa Asing Bertambah, Unismuh Perkuat Posisi sebagai Kampus Berdaya Saing Global

Limabelas Indonesia, MAKASSAR — Internasionalisasi perguruan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya kerja sama luar negeri atau posisi dalam pemeringkatan dunia. Ukuran yang lebih nyata adalah ketika mahasiswa dari negara lain bersedia datang, belajar, dan menjadi bagian dari kehidupan akademik kampus. Tanda itu semakin terlihat di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Saat ini, Unismuh memiliki 49 mahasiswa internasional penuh waktu atau full-time yang menempuh pendidikan hingga memperoleh gelar. Mereka terdiri atas 42 mahasiswa jenjang S1, empat mahasiswa S2, dan tiga mahasiswa S3.

Selain itu, terdapat 165 mahasiswa internasional part-time melalui program MACCA, terdiri atas 161 mahasiswa jenjang sarjana dan empat mahasiswa pascasarjana.

Mahasiswa internasional yang saat ini berada dalam ekosistem akademik Unismuh berasal dari berbagai negara, antara lain Malaysia, Kenya, Korea, Sudan, Pakistan, Ghana, Thailand, dan Mesir.

Jumlah itu akan berpotensi bertambah pada penerimaan mahasiswa internasional 2026. Tahun ini, tercatat 44 calon mahasiswa dari delapan negara mendaftar pada jenjang diploma, sarjana, magister, hingga doktor. Mereka berasal dari Sudan, Tanzania, Pakistan, Thailand, Bangladesh, Yaman, Kenya, dan Madagaskar.

Pendaftar tersebut terdiri atas 39 calon mahasiswa S1, satu D3, tiga magister, dan satu doktor.

Ketua Lembaga Penerimaan Mahasiswa Baru (LPMB) Unismuh, Dr Muhammad Akhir, mengatakan yang menarik bukan semata jumlah pendaftar, melainkan jangkauan negara dan jenjang pendidikan yang dipilih.

“Ini menunjukkan daya tarik Unismuh mulai menjangkau berbagai level pendidikan tinggi. Ada yang memilih diploma dan sarjana, ada pula yang langsung mendaftar pada program magister dan doktor,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Kedokteran Paling Diminati

Pada jenjang sarjana, Pendidikan Dokter menjadi program studi yang paling banyak diminati dengan 18 calon mahasiswa internasional. Peminatnya antara lain berasal dari Pakistan, Sudan, Tanzania, Bangladesh, Thailand, dan Yaman.

Pilihan calon mahasiswa asing juga menyebar ke Informatika, Farmasi, Teknik Elektro, Teknik Sipil/Sumber Daya Air, Akuntansi, Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam, Agroteknologi, Ekonomi Islam, Manajemen, Pendidikan Sosiologi, Teknologi Pendidikan, serta Hukum Bisnis.

Di jenjang pascasarjana, calon mahasiswa asal Madagaskar memilih Magister Pendidikan Sosiologi. Pendaftar dari Pakistan dan Tanzania memilih Magister Pendidikan Bahasa Inggris. Sementara seorang calon mahasiswa asal Tanzania mendaftar pada program doktor bidang pendidikan.

Ketua Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional (LKUI) Unismuh, Dr Maharida, menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa internasionalisasi kampus mulai terasa secara nyata.

“Internasionalisasi tidak cukup hanya terlihat dari nota kesepahaman atau kunjungan ke luar negeri. Salah satu bentuk yang paling nyata adalah ketika mahasiswa dari berbagai negara datang, belajar, dan menjadi bagian dari komunitas akademik Unismuh,” katanya.

Keberadaan 49 mahasiswa internasional full-time dan 165 mahasiswa part-time melalui MACCA membuat interaksi lintas budaya di Unismuh tidak lagi bersifat insidental. Mahasiswa asing telah menjadi bagian dari ruang kuliah, program akademik, serta aktivitas internasional kampus.

Menurut Maharida, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas pengalaman mereka selama berada di Unismuh.

“Yang harus kami pastikan adalah layanan sejak proses penerimaan, adaptasi budaya, pembelajaran, sampai mereka menyelesaikan studi. Ketika kembali ke negaranya, pengalaman mereka di Unismuh akan ikut membentuk reputasi universitas,” ujarnya.

Seleksi calon mahasiswa internasional 2026 akan berlangsung secara daring. Briefing dijadwalkan 16 September, dilanjutkan Computer Based Test pada 17 September dan wawancara pada 18 September.

Mutu Menjadi Fondasi

Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang akrab disapa Prof Andis, menilai meningkatnya minat mahasiswa asing tidak dapat dilepaskan dari penguatan mutu institusi dalam beberapa tahun terakhir.

“Mahasiswa asing dan keluarganya tentu akan melihat mutu institusi, program studi, tata kelola, reputasi, dan prospek akademiknya. Minat dari berbagai negara ini adalah kepercayaan yang harus dijaga dengan kualitas,” kata Prof Andis.

Unismuh kini menyandang Akreditasi Institusi Unggul dari BAN-PT. Sejak 2023, universitas juga menerapkan ISO 21001:2018, standar internasional untuk sistem manajemen organisasi pendidikan. Cakupan sertifikasi tersebut kini telah menjangkau seluruh unit kerja.

Pengakuan eksternal juga terus bertambah. Dalam THE Impact Rankings 2026, Unismuh berada pada kelompok 801–1000 dunia.

Pada QS Asia University Rankings 2026, Unismuh menempati kelompok 1201–1300 Asia, peringkat 185 Asia Tenggara, dan 53 Indonesia.

Sementara itu, dalam UI GreenMetric World University Rankings 2025, Unismuh berada pada peringkat 624 dunia, 359 Asia, dan 62 Indonesia.

Capaian yang lebih menonjol terlihat pada kategori Setting and Infrastructure. Pada kategori tersebut, Unismuh berada pada peringkat 20 dunia dan keempat nasional.

Bagi Rektor Unismuh, Dr Ir Abd Rakhim Nanda, ST MT IPU, pemeringkatan tersebut bukan tujuan akhir. “Ranking merupakan alat ukur dan pengakuan eksternal. Yang jauh lebih penting adalah apakah mutu yang kita bangun benar-benar dirasakan mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional,” ujarnya.

Menurut dia, reputasi internasional harus dimulai dari dalam kampus: sistem akademik yang baik, layanan yang konsisten, lingkungan belajar yang mendukung, serta budaya mutu yang hidup.

Dari Peringkat ke Kepercayaan

Akreditasi Unggul, penerapan ISO 21001:2018, kehadiran dalam pemeringkatan internasional, serta meningkatnya jumlah mahasiswa asing menjadi rangkaian yang saling terkait dalam proses internasionalisasi Unismuh.

Kampus tidak lagi hanya memiliki mahasiswa internasional dalam program jangka pendek. Saat ini terdapat mahasiswa asing yang menempuh pendidikan penuh hingga gelar pada jenjang S1, S2, dan S3.

Pada saat yang sama, program MACCA memperluas interaksi internasional melalui skema part-time yang melibatkan lebih dari seratus mahasiswa asing.

Masuknya 44 calon mahasiswa baru dari delapan negara pada penerimaan 2026 menunjukkan bahwa aliran internasionalisasi tersebut masih terus bergerak.

Rakhim Nanda mengatakan, tantangan universitas bukan sekadar membuat mahasiswa asing tertarik mendaftar.

“Yang lebih besar adalah memastikan mereka yang nanti diterima memperoleh pengalaman akademik yang membuat mereka yakin bahwa memilih Unismuh merupakan keputusan yang tepat,” katanya.

Mahasiswa internasional, kata Rakhim, kelak dapat menjadi penghubung Unismuh dengan masyarakat di negara asalnya.

“Kerja sama internasional bisa dituangkan dalam dokumen. Namun, mahasiswa internasional adalah hubungan antarmanusia yang hidup. Ketika pulang, mereka membawa pengalaman dan nama Unismuh ke negaranya,” ujarnya.

Kehadiran mahasiswa dari berbagai negara juga sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, terutama melalui perluasan akses pendidikan tinggi bermutu dan penguatan jejaring lintas negara. (*)

Bagi Unismuh, data mahasiswa internasional yang sudah belajar di kampus dan calon mahasiswa yang sedang mengikuti proses penerimaan menunjukkan hal yang sama: reputasi global mulai bergerak dari pengakuan institusional menuju kepercayaan nyata warga dunia untuk datang, belajar, dan bertumbuh di Makassar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *