Limabelas Indonesia, Makassar – Kalla Institute kembali mencatatkan prestasi di bidang pendidikan dengan terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi terbaik dalam Program KRISAN Fellowship, sebuah program yang mendorong penguatan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.
Pencapaian tersebut diraih melalui keterlibatan dua dosen Kalla Institute, Syarief Dienan Yahya dan Muhammad Fachrul Salam, dalam program yang berfokus pada peningkatan pemahaman dan kapasitas perguruan tinggi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif.
Kalla Institute berhasil masuk dalam lima perguruan tinggi terbaik setelah melalui proses seleksi yang diikuti lebih dari 109 perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Kalla Institute memperkuat lingkungan akademik yang setara, terbuka, dan responsif terhadap kebutuhan setiap peserta didik.
Bagi Kalla Institute, pendidikan inklusif tidak sebatas menyediakan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Lebih jauh, inklusivitas menyangkut kemampuan institusi dalam membangun lingkungan yang menghargai keberagaman, memahami kebutuhan individu, serta memberikan ruang yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang.
Dosen Kalla Institute, Syarief Dienan Yahya, mengatakan keikutsertaannya dalam KRISAN Fellowship menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan perspektif mengenai penerapan prinsip inklusivitas di lingkungan perguruan tinggi.
“KRISAN Fellowship memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar dan memahami bagaimana pendidikan dapat hadir secara lebih inklusif. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui program ini diharapkan dapat diterapkan di Kalla Institute sehingga lingkungan kampus semakin terbuka dan mampu memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu,” ujar Syarief.
Senada dengan itu, Muhammad Fachrul Salam menilai pendidikan inklusif membutuhkan komitmen dan keterlibatan seluruh unsur perguruan tinggi. Menurutnya, inklusivitas tidak cukup hanya diwujudkan melalui kebijakan atau fasilitas, tetapi perlu dibangun sebagai bagian dari ekosistem dan budaya kampus.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menyediakan akses, tetapi juga membangun lingkungan yang memahami dan menghargai setiap perbedaan. Melalui KRISAN Fellowship, kami memperoleh perspektif baru yang menjadi bekal untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang lebih ramah dan setara,” kata Fachrul.
Keterlibatan Kalla Institute dalam KRISAN Fellowship menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas institusi dalam mengembangkan pendidikan inklusif. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan proses pembelajaran, aktivitas akademik, hingga penyediaan fasilitas dan lingkungan kampus yang semakin responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Komitmen tersebut sejalan dengan pandangan Kalla Institute bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik maupun kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Kualitas pendidikan juga tercermin dari kemampuan institusi dalam menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, terbuka, dan memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh mahasiswa.
Ke depan, Kalla Institute akan terus membuka ruang kolaborasi dan mengembangkan berbagai inisiatif yang mendukung terwujudnya pendidikan inklusif. Keterlibatan dalam KRISAN Fellowship diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian, tetapi menjadi bagian dari proses berkelanjutan untuk membangun lingkungan akademik yang adaptif, setara, dan inklusif.
Melalui peran dosen dan seluruh sivitas akademika, Kalla Institute berupaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga menanamkan nilai keberagaman, kesetaraan, dan kepedulian terhadap sesama. (Fik)





