Limabelas Indonesia. Makassar – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi lingkungan hidup dewasa ini, keterlibatan generasi muda dalam gerakan konservasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Kesadaran untuk menjaga kelestarian alam harus terus dibangun melalui kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu menumbuhkan jiwa kepemimpinan, solidaritas, serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.
Berangkat dari semangat tersebut, Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Sulawesi Selatan kembali menyelenggarakan Lintas Merah Putih (LMP) XVI, sebuah kegiatan tahunan yang memadukan nilai-nilai kepecintaalaman, konservasi, pendidikan lingkungan, dan nasionalisme. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FPL sebagai wadah yang menaungi puluhan organisasi pecinta alam di Sulawesi Selatan dalam mencetak generasi muda yang tangguh, berkarakter, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.
Mengusung tema “Bersama Dalam Pelestarian”, LMP XVI menjadi ruang kolaborasi bagi para pecinta alam dari berbagai daerah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan aksi nyata dalam menjaga ekosistem.
Rangkaian kegiatan dirancang secara komprehensif, mulai dari penghijauan, aksi bersih gunung, diskusi lingkungan, pelatihan konservasi, coaching clinic, hingga penerapan konsep zero waste, ecobricks, dan ecocigarette sebagai bentuk edukasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan di kawasan Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, menjadi simbol bahwa alam bukan sekadar tempat berpetualang, melainkan ruang belajar yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman berorganisasi dan bertualang, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Lintas Merah Putih XVI menjadi momentum memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara yang bermakna, yakni mengisi kemerdekaan melalui aksi nyata menjaga alam Indonesia. Semangat merah putih diwujudkan dalam pengabdian kepada lingkungan, penguatan persaudaraan antarsesama pecinta alam, serta pengembangan karakter generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berintegritas.
Melalui sinergi berbagai komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, LMP XVI diharapkan mampu menjadi gerakan bersama yang memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat semangat kebangsaan. Sebab, menjaga alam Indonesia adalah bagian dari menjaga masa depan bangsa.
Ketua Panitia Lintas Merah Putih XVI, Aceng, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Sulawesi Selatan, melainkan sebuah gerakan moral untuk membangun kesadaran generasi muda agar semakin peduli terhadap kelestarian alam dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.
Menurutnya, Lintas Merah Putih XVI dirancang sebagai wadah yang mempertemukan para pecinta alam dari berbagai daerah untuk belajar, berbagi pengalaman, serta melakukan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.
“Kami ingin Lintas Merah Putih XVI menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian. Peserta tidak hanya diajak mendaki gunung, tetapi juga memahami pentingnya konservasi, menjaga kebersihan alam, menanam pohon, serta membangun rasa persaudaraan lintas komunitas. Alam harus menjadi sahabat yang dijaga bersama, bukan sekadar tempat untuk dikunjungi,” ujar Aceng.
Ia menambahkan, tema “Bersama Dalam Pelestarian” merupakan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat agar memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, dunia usaha, media, hingga masyarakat luas. Melalui Lintas Merah Putih XVI kami berharap lahir generasi muda yang tangguh, memiliki jiwa kepemimpinan, cinta tanah air, sekaligus menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan Indonesia,” katanya.
Aceng juga berharap kegiatan yang dipusatkan di kawasan Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng ini mampu memberikan dampak jangka panjang, bukan hanya bagi peserta, tetapi juga bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi.
“Harapan kami, setiap peserta yang kembali dari kegiatan ini membawa semangat baru untuk menjadi agen perubahan di daerahnya masing-masing. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas saat kegiatan berlangsung, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup dan tanggung jawab sebagai warga negara,” tutupnya.





