Generasi Muda Barrang Lompo, di Antara Pendidikan dan Pataripang

Oleh: Arhan (warga Pulau Barrang Lompo, alumni UMI Makassar)

Limabelas Indonesia, Makassar – Tidak punya kesempatan melanjutkan pendidikan adalah kemungkinan yang harus dihadapi warga Pulau Barrang Lompo.

Pulau yang hanya berjarak sekira 13 km dari Kota Makassar ini merupakan tanah kelahiran, tempat saya tumbuh bersama teman-teman.

Saya merasakan betul apa artinya menjadi orang pulau, dengan segala keterbatasan fasilitas dan aksesibilitas.

Sekalipun harus diakui, sekarang makin banyak anak muda Barrang Lompo yang bisa menyelesaikan pendidikan tinggi di Makassar.

Saya mencoba mengingat-ingat satu demi satu teman angkatan saya. Jika dihitung-hitung, pada setiap jenjang pendidikan, selalu saja ada yang putus sekolah.

Mulai dari bangku SD, lalu SMP, dan selanjutnya SMA, semakin berkurang di setiap tahapannya.

Seingat saya, teman-teman saya di SD Negeri Barrang Lompo, yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP ada sebanyak 8 orang.

Sebagai informasi, di pulau ini ada 2 SD, masing-masing SD Negeri Barrang Lompo dan SD Inpres Barrang Lompo.

Teman-teman saya itu berguguran lagi, kira-kira sebanyak 15 orang setelah SMP. Mereka tak lanjut SMA.

Saya merupakan alumni SMP Negeri 28 Barrang Lompo, yang merupakan satu-satunya SMP di pulau ini. Begitu meraih ijazah SMA, 10 orang di antara kami tidak bisa meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Bila ditotal, dari keseluruhan teman satu angkatan kami sejak SD hingga SMA, tak lebih dari 10 orang yang berhasil menyelesaikan kuliahnya, dan meraih gelar sarjana.

Sebagian besar teman-teman, yang tidak melanjutkan pendidikan, hampir semua punya alasan yang sama, yakni soal biaya. Ketika SD dan SMP, memang kami masih bisa menikmati kebijakan pendidikan gratis.

Tapi, begitu menginjak SMA, pendidikan gratis tidak bisa lagi dirasakan. Pasalnya, SMA Barrang Lompo, disingkat Smabar, merupakan sekolah swasta, yang berarti berbayar.

Mau bersekolah SMA di Kota Makassar, bukanlah pilihan mudah. Tentu butuh biaya yang lebih banyak lagi, baik untuk transportasi, konsumsi (jajan/makan, maupun akomodasi (rumah/tempat kos).

Sejatinya, soal biaya ini, bukan merupakan faktor tunggal. Ada alasan yang saling berkelindan, soal kondisi sosial ekonomi ini.

Mulai dari tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua yang rendah, serta pandangan orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak. Kondisi ini diperparah bila motivasi anak untuk bersekolah juga rendah.

Sebagian besar anak laki-laki, teman-teman saya yang putus sekolah, berkaitan pula dengan aktivitas dan pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan.

Begitu drop out, ia akan ikut berlayar bersama orang tuanya sebagai nelayan pencari ikan, penyelam teripang (pataripang), atau berlayar untuk berdagang ke wilayah Timur, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan patimoro’.

Sebagai pataripang dan patimoro’, mereka berlayar jauh ke berbagai tempat, ada yang ke Laut Jawa, ke sekitar perairan Kalimantan, kepulauan Maluku, Nusa Tengara Timur, bahkan sampai ke Papua.

Sebagai pataripang dan patimoro’, mereka bisa berlayar dua sampai tiga bulan untuk satu kali perjalanan. Bahkan lebih. Namun, mereka akan pulang saat Ramadan untuk menjalankan ibadah puasa bersama keluarga.

Apalagi, saat Hari Raya Idul Fitri, ada tradisi saling berkunjung antarkeluarga, termasuk dari pulau-pulau sekitar dan yang sudah menetap di Kota Makassar.

Lebaran akan menjadi momen pulang kampung, bertemu sanak keluarga dan tetangga, untuk saling bermaaf-maafan.

Puncak kemeriahaan Lebaran ini, kian terasa di sore hari, di mana semua orang Barrang Lompo berkeliling pulau mengenakan baju baru atau busana terbaiknya. Itulah keseruan yang selalu saya ingat sejak kecil.

Bekerja sebagai nelayan pencari teripang, sesungguhnya merupakan pekerjaan yang penuh risiko. Peralatan yang mereka gunakan terbilang sangat sederhana, hanya berupa selang, kacamata, sepatu bebek, dakor selam, dan kompresor selam.

Padahal mereka menyelam bisa hingga kedalaman lebih 20 meter di bawah laut. Di sinilah bahaya itu mengancam keselamatan jiwa para pataripang.

Sudah banyak kasus pataripang terpaksa mengalami kelumpuhan akibat bekerja dalam tekanan arus laut, dan menghirup gas yang tidak aman bagi mereka.

Karena situasi itu, ada saat di Barrang Lompo di mana sebagian besar penduduk usia kerjanya adalah perempuan, dan lelaki yang tidak bisa lagi melaut karena mengalami dekompresi. Mereka lumpuh atau kram, dalam sebutan orang Barrang Lompo.

Risiko itu sudah diketahui oleh pataripang. Mereka bisa saja pulang, tetapi tanpa keuntungan. Sebaliknya, ketika berhasil, dalam satu pelayaran pada musim teripang, seorang nelayan penyelam, bisa meraup pendapatan antara 25-30 juta.

Jadi biar pun dengan risiko lumpuh, pataripang tetap jadi pilihan mata pencaharian. Bahkan inilah salah satu pilihan pekerjaan laki-laki Barrang Lompo sejak akil baliq.

Ada beberapa warga Barrang Lompo terkena musibah lumpuh, seperti Pak Basri, Pak Rudi, Pak Akbar, Daeng Mile dan Daeng Misi.

Tidak sedikit dari pataripang ditemukan sudah tak bernyawa. Bisa saja, akibat dekompresi, penyelam teripang hilang terbawa arus, dan tubuhnya tidak ditemukan.

Sepanjang tahun 2025, ada lima nelayan yang meninggal sewaktu sedang bekerja. Namun, dalam keadaan bernyawa atau tidak, mereka akan dibawa pulang ke Barrang Lompo.

Bila nelayan pencari teripang mengalami kelumpuhan, maka beban menafkahi keluarga berpindah ke anak laki-laki dalam rumah. Biasanya, ia menjadi pataripang pula.

Jika pun masih bisa berkegiatan, ada yang mencari ikan dan cumi-cumi yang disebut akdoang-doang.

Kemungkinan lain, istrinya akan mencari penghasilan dengan bekerja membantu keluarga lain untuk mencuci dan bersih-bersih. Atau jualan kue, seperti jalangkote, bolu kukus, pisang goreng, roti kambu (roti goreng), dan donat. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *