Limabelas Indonesia, Surabaya – Transformasi yang dijalankan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo di bawah arahan strategis Danantara Indonesia mulai memperlihatkan dampak nyata. Pada Semester I 2026, Pelindo mencatat pertumbuhan laba sebesar 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut tidak berdiri sendiri. Kenaikan laba berjalan beriringan dengan penguatan kinerja operasional dan peningkatan efektivitas organisasi, yang menunjukkan bahwa transformasi perusahaan mulai diterjemahkan menjadi kinerja bisnis sekaligus penguatan peran Pelindo dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.
Salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan petikemas. Hingga Juni 2026, arus petikemas yang dikelola Pelindo mencapai 9,96 juta TEUs, atau tumbuh 7 persen secara year-on-year (YoY).
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas di pelabuhan tetap bergerak positif. Setiap petikemas yang keluar-masuk terminal merepresentasikan pergerakan barang, mulai dari kebutuhan industri, bahan baku, hingga produk yang didistribusikan ke berbagai wilayah.
Dengan demikian, peningkatan arus petikemas bukan sekadar capaian operasional perusahaan. Pertumbuhan tersebut turut mencerminkan semakin pentingnya pelabuhan sebagai bagian dari rantai pasok yang menghubungkan pusat-pusat produksi dan konsumsi di Indonesia.
Namun, menjaga agar jutaan petikemas dapat bergerak secara lancar membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan volume. Keandalan infrastruktur, kesiapan alat, serta kemampuan melakukan pemeliharaan secara cepat dan tepat menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas terminal.
Di sinilah peran PT Berkah Industri Mesin Angkat (PT BIMA) menjadi bagian dari ekosistem transformasi Pelindo.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Total Engineering Services, PT BIMA mendukung operasional Pelindo melalui layanan engineering dan pemeliharaan peralatan pelabuhan di berbagai wilayah kerja.
Layanan tersebut mencakup bidang mekanikal, elektrikal, sipil, pemeliharaan peralatan pelabuhan, pengadaan heavy equipment, hingga penyediaan spare part dan berbagai kebutuhan engineering lainnya.
Keberadaan layanan tersebut menjadi penting karena kelancaran rantai logistik sangat bergantung pada kesiapan peralatan di lapangan. Gangguan pada satu bagian operasional berpotensi memengaruhi waktu pelayanan dan pada akhirnya berdampak pada kelancaran distribusi barang.
Karena itu, penguatan kinerja Pelindo tidak hanya berlangsung pada level korporasi, tetapi juga ditopang oleh berbagai entitas dalam ekosistemnya. PT BIMA menjadi salah satu bagian yang menjaga aspek teknis agar operasional pelabuhan dapat berlangsung secara andal dan berkelanjutan.
Transformasi yang menghasilkan pertumbuhan laba dan peningkatan arus petikemas pada akhirnya memiliki makna lebih luas. Kinerja tersebut menunjukkan upaya membangun pelabuhan yang tidak hanya mengejar efisiensi bisnis, tetapi juga semakin mampu menjawab kebutuhan konektivitas dan distribusi barang di Indonesia.
Dengan posisi tersebut, Pelindo terus memperkuat perannya sebagai simpul utama logistik nasional. Sementara dukungan engineering dan pemeliharaan yang dilakukan PT BIMA menjadi bagian dari fondasi teknis untuk memastikan simpul tersebut tetap berfungsi secara optimal.
Ketika operasional pelabuhan semakin andal, manfaatnya tidak berhenti di area terminal. Kelancaran arus barang turut menentukan efisiensi rantai pasok, konektivitas antardaerah, serta kemampuan dunia usaha mendapatkan dan mendistribusikan barang secara lebih efektif.
Transformasi Pelindo pun pada akhirnya bukan hanya tentang pertumbuhan angka laba. Di balik kenaikan laba 60 persen dan pertumbuhan arus petikemas 7 persen, terdapat upaya memperkuat sistem logistik agar pergerakan barang di Indonesia semakin efisien, terhubung, dan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional.





