Telkomsel Ungkap Talenta Yang Dibutuhkan Industri Di Era AI

Limabelas Indonesia, Makassar – Di tengah semakin masifnya penggunaan artificial intelligence (AI) di dunia kerja, kebutuhan industri terhadap talenta ikut mengalami perubahan. Kemampuan menggunakan AI saja dinilai tidak lagi cukup. Industri justru membutuhkan talenta yang mampu memahami konten, konteks, memiliki karakter, serta mampu menunjukkan pengalaman dan karya nyata.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Career Talkshow bertema “Teknologi Terus Bertumbuh: Jalan Karir Seperti Apa yang Harus Kita Tempuh?” yang digelar Telkomsel melalui program THRIVE Goes to Universitas Hasanuddin, Selasa (22/9), di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Sesi tersebut menghadirkan praktisi Telkomsel yang membahas perubahan lanskap dunia kerja seiring perkembangan teknologi. Diskusi mencakup pergeseran peran AI dari sekadar alat bantu menjadi agen kerja, kompetensi yang dapat membedakan talenta di tengah teknologi yang semakin mudah diakses, hingga pentingnya membangun resiliensi karier ketika perjalanan profesional tidak selalu berlangsung secara linear.

Vice President People Development and Management Telkomsel, Dudun Abdul Falah Sidiq, mengatakan perkembangan AI membuat kemampuan teknis tertentu semakin mudah diperoleh. Namun, terdapat kompetensi manusia yang tetap memiliki nilai penting bagi industri.

“Di era AI saat ini, semua orang bisa membuat prompt yang bagus, namun yang kami cari adalah orang yang genuine memahami konten dan konteks, yakni sesuatu yang tidak bisa digantikan sekadar dengan prompting yang jago,” ujar Dudun.

Menurutnya, pekerjaan yang mengandalkan sisi humanis dan sulit digantikan otomatisasi justru diproyeksikan semakin dibutuhkan seiring dengan adanya perubahan pada sejumlah pekerjaan akibat perkembangan AI.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik maupun kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga perlu membangun karakter, value, serta portofolio yang menunjukkan pengalaman dan kemampuan yang benar-benar dimiliki.

“Bagi mahasiswa, ini berarti bahwa mereka harus mempunyai karakter, value, dan portofolio nyata, proyek yang bisa mereka ceritakan sendiri, baik di CV maupun saat wawancara,” katanya.

Dudun menekankan, pengalaman mengerjakan proyek menjadi salah satu cara bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka secara konkret. Portofolio tersebut sekaligus dapat menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.

Mendekatkan Industri dengan Talenta Indonesia Timur

Program THRIVE merupakan bagian dari komitmen Telkomsel dalam memberdayakan generasi muda dan membangun talenta masa depan yang siap menghadapi dinamika dunia kerja.

Telkomsel memandang potensi talenta dapat hadir dari berbagai wilayah dengan perspektif, pengalaman, dan pemahaman terhadap konteks lokal yang menjadi kekuatan tersendiri.

Kehadiran THRIVE di Universitas Hasanuddin menjadi bagian dari upaya mendekatkan Telkomsel dengan talenta di kawasan Indonesia Timur. Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh exposure terhadap dunia industri sekaligus ruang untuk mengenal berbagai peluang yang dapat dipersiapkan sejak masa perkuliahan.

Bagi mahasiswa, interaksi langsung dengan praktisi industri juga memberikan gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun langkah pengembangan karier secara lebih terarah.

Kolaborasi Telkomsel dan Universitas Hasanuddin juga diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama program studi independen bagi mahasiswa.

Kerja sama tersebut menghadirkan sejumlah program, termasuk magang Virtual Internship (Virtuship) dan Paket DPI (Domain Private Internet) untuk mendukung akses terhadap aplikasi internal.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Suhasman, S.Hut., M.Si., mengapresiasi kolaborasi yang dibangun bersama Telkomsel tersebut.

“Kami mengapresiasi kolaborasi bersama Telkomsel yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan wawasan langsung mengenai perkembangan industri, teknologi, dan dinamika dunia kerja,” ujarnya.

Menurut Suhasman, interaksi mahasiswa dengan dunia industri penting untuk memperluas perspektif sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Hal ini penting untuk memperluas pandangan mahasiswa sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan kompetensi, kemampuan komunikasi, dan kolaborasi agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja di masa depan,” katanya.

Membangun Talenta yang Adaptif

Perkembangan AI membuat dunia kerja menghadapi perubahan yang semakin cepat. Dalam kondisi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari kesiapan karier mahasiswa.

Melalui THRIVE, Telkomsel berupaya membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia untuk mengenal perkembangan industri, membangun kompetensi, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Dengan semangat “Melayani Sepenuh Hati”, Telkomsel menempatkan pengembangan talenta muda sebagai bagian dari upaya menghadirkan nilai dan dampak nyata bagi mahasiswa maupun perguruan tinggi.

Kehadiran THRIVE di Universitas Hasanuddin sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga membuka pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Di tengah perkembangan AI, pesan yang dibawa Telkomsel kepada mahasiswa menjadi semakin relevan: teknologi dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi pemahaman terhadap manusia, konteks, karakter, serta pengalaman nyata tetap menjadi bagian penting dalam membentuk talenta yang dibutuhkan industri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *